Herbisida
memiliki efektivitas yang beragam. Berdasarkan cara kerjanya, herbisida kontak
mematikan bagian tumbuhan yang terkena herbisida, dan herbisida sistemik
mematikan setelah diserap dan ditranslokasikan ke seluruh bagian gulma. Menurut
jenis gulma yang dimatikan ada herbisida selektif yang mematikan gulma tertentu
atau spektrum sempit, dan herbisida non selektif yang mematikan banyak jenis
gulma atau spektrum lebar (Fadhly dan Tabri 2007). Mode of action suatu
herbisida sangat penting dalam menentukan apakah suatu herbisida dikatakan
efektif atau tidak. Ada tujuh Mode of action dari suatu herbisida,
yaitu:
1. Menghambat
sintesis asam amino
2. Menghambat
sintesis lemak
3. Menghambat
fotosintesis
4. Menghambat
pembelahan sel
5. Menghambat
sintesis pigmen
6. Melakukan
perusakan sel
7. Merusak
sistem kerja hormon
Paraquat
adalah nama dagang untuk 1, 1 '-dimethyl-4, 4'-bipyridinium dichloride, salah
satu yang paling banyak digunakan di dunia herbisida. Paraquat, yang viologen,
adalah bertindak cepat dan non-selektif, membunuh tanaman hijau pada jaringan
kontak. Juga bersifat racun bagi mahluk hidup, jika terakumulasi didalam tubuh.
Herbisida paraquat merupakan herbisida kontak dari golongan bipiridilium yang
digunakan untuk mengendalikan gulma yang diaplikasikan pasca-tumbuh. Herbisida
tersebut digunakan secara luas untuk mengendalikan gulma musiman khususnya
rerumputan (Tjitrosoedirdjo, dkk, 1984).
Herbisida
paraquat menyerang bagian kloroplas. Kloroplas merupakan bagian dalam proses
fotosintesis, yang mengabsorbsi cahaya matahari yang digunakan untuk
menghasilkan gula. Diketahui bahwa paraquat bekerja dalam sistem membran
fotosintesis yang disebut Fotosistem I, yang menghasilkan elektron bebas untuk
menjalankan proses fotosintesis. Elektron bebas dari fotosistem I bereaksi
dengan ion paraquat untuk membentuk radikal bebas. Oksigen segera mengubah
kembali radikal bebas ini dan dalam proses ini menghasilkan O2 negatif. Dengan
adanya reaksi kimia yang tinggi, O2 negatif menyerang membran asam lemak tak
jenuh, dengan cepat membuka dan mendisintegrasikan membran sel dan jaringan.
Ion paraquat/radikal bebas tersebut kemudian mendaur ulang dengan menghasilkan
lebih banyak lagi O2 negatif sampai pasokan elektron bebasnya berhenti. Kerja
herbisida ini sangat tergantung pada kehadiran cahaya, oksigen, dan
fotosintesis (Anderson, 1977).
Metil
metsulfuron pertama kali diperkenalkan pada tahun 1982. Herbisida ini bersifat
sistemik, diabsorbsi oleh akar dan daun serta ditranslokasikan secara akropetal
dan basipetal. Gulma yang peka akan berhenti tumbuh hampir segera setelah
aplikasi post-emergence dan akan mati dalam 7-21 hari. Herbisida ini bersifat
selektif untuk mengendalikan berbagai gulma pada padi sawah (Djojosumarto,
2008).
Cara
kerja metil metsulfuron adalah menghambat kerja dari enzim acetolactate
synthase (ALS) dan acetohydroxy synthase (AHAS) dengan menghambat perubahan
dari α ketoglutarate menjadi 2-acetohydroxybutyrate dan piruvat menjadi
2-acetolactate sehingga mengakibatkan rantai cabang-cabang asam amino valine,
leucine, dan isoleucine tidak dihasilkan. Tanpa adanya asam amino yang penting
ini, maka protein tidak dapat terbentuk dan tanaman mengalami kematian (Ross
and Childs, 2010).
Daftar Pustaka
Anderson,
W. P. 1977. Weed Science Principles. New York (ID): West Publishing Co
Djojosumarto,
P. 2008. Pestisida Dan Aplikasinya. Jakarta (ID): Agromedia Pustaka
Fadhly, A. F., dan F. Tabri. 2007.
Pengendalian Gulma Pada Pertanaman Jagung. http://balit.litbang.co.id.bukujagung.pdf. 13 November 2009.
Ross,
M. A. Dan D. J. Childs, 2010. Herbicide Mode of Action. Department of Botany and Plant Pathology, Purdue
University. http:// www.bio5.rwthaachent.
Diakses tanggal 1 April 2010
Tjitrosoedirdjo,
S., I. Utomo dan J. Wiroatmodjo. 1984. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. Jakarta
(ID): PT Gramedia