Selasa, 08 Mei 2018

Selasa, 30 Januari 2018

Herbisida

Herbisida memiliki efektivitas yang beragam. Berdasarkan cara kerjanya, herbisida kontak mematikan bagian tumbuhan yang terkena herbisida, dan herbisida sistemik mematikan setelah diserap dan ditranslokasikan ke seluruh bagian gulma. Menurut jenis gulma yang dimatikan ada herbisida selektif yang mematikan gulma tertentu atau spektrum sempit, dan herbisida non selektif yang mematikan banyak jenis gulma atau spektrum lebar (Fadhly dan Tabri 2007). Mode of action suatu herbisida sangat penting dalam menentukan apakah suatu herbisida dikatakan efektif atau tidak. Ada tujuh Mode of action dari suatu herbisida, yaitu:
1.      Menghambat sintesis asam amino
2.      Menghambat sintesis lemak
3.      Menghambat fotosintesis
4.      Menghambat pembelahan sel
5.      Menghambat sintesis pigmen
6.      Melakukan perusakan sel
7.      Merusak sistem kerja hormon
Paraquat adalah nama dagang untuk 1, 1 '-dimethyl-4, 4'-bipyridinium dichloride, salah satu yang paling banyak digunakan di dunia herbisida. Paraquat, yang viologen, adalah bertindak cepat dan non-selektif, membunuh tanaman hijau pada jaringan kontak. Juga bersifat racun bagi mahluk hidup, jika terakumulasi didalam tubuh. Herbisida paraquat merupakan herbisida kontak dari golongan bipiridilium yang digunakan untuk mengendalikan gulma yang diaplikasikan pasca-tumbuh. Herbisida tersebut digunakan secara luas untuk mengendalikan gulma musiman khususnya rerumputan (Tjitrosoedirdjo, dkk, 1984).
Herbisida paraquat menyerang bagian kloroplas. Kloroplas merupakan bagian dalam proses fotosintesis, yang mengabsorbsi cahaya matahari yang digunakan untuk menghasilkan gula. Diketahui bahwa paraquat bekerja dalam sistem membran fotosintesis yang disebut Fotosistem I, yang menghasilkan elektron bebas untuk menjalankan proses fotosintesis. Elektron bebas dari fotosistem I bereaksi dengan ion paraquat untuk membentuk radikal bebas. Oksigen segera mengubah kembali radikal bebas ini dan dalam proses ini menghasilkan O2 negatif. Dengan adanya reaksi kimia yang tinggi, O2 negatif menyerang membran asam lemak tak jenuh, dengan cepat membuka dan mendisintegrasikan membran sel dan jaringan. Ion paraquat/radikal bebas tersebut kemudian mendaur ulang dengan menghasilkan lebih banyak lagi O2 negatif sampai pasokan elektron bebasnya berhenti. Kerja herbisida ini sangat tergantung pada kehadiran cahaya, oksigen, dan fotosintesis (Anderson, 1977).
Metil metsulfuron pertama kali diperkenalkan pada tahun 1982. Herbisida ini bersifat sistemik, diabsorbsi oleh akar dan daun serta ditranslokasikan secara akropetal dan basipetal. Gulma yang peka akan berhenti tumbuh hampir segera setelah aplikasi post-emergence dan akan mati dalam 7-21 hari. Herbisida ini bersifat selektif untuk mengendalikan berbagai gulma pada padi sawah (Djojosumarto, 2008).
Cara kerja metil metsulfuron adalah menghambat kerja dari enzim acetolactate synthase (ALS) dan acetohydroxy synthase (AHAS) dengan menghambat perubahan dari α ketoglutarate menjadi 2-acetohydroxybutyrate dan piruvat menjadi 2-acetolactate sehingga mengakibatkan rantai cabang-cabang asam amino valine, leucine, dan isoleucine tidak dihasilkan. Tanpa adanya asam amino yang penting ini, maka protein tidak dapat terbentuk dan tanaman mengalami kematian (Ross and Childs, 2010).

Daftar Pustaka
Anderson, W. P. 1977. Weed Science Principles. New York (ID): West Publishing Co

Djojosumarto, P. 2008. Pestisida Dan Aplikasinya. Jakarta (ID): Agromedia Pustaka
Fadhly, A. F., dan F. Tabri. 2007. Pengendalian Gulma Pada Pertanaman Jagung. http://balit.litbang.co.id.bukujagung.pdf. 13 November 2009.
Ross, M. A. Dan D. J. Childs, 2010. Herbicide Mode of Action.  Department of Botany and Plant Pathology, Purdue University. http:// www.bio5.rwthaachent.  Diakses tanggal 1 April 2010
Tjitrosoedirdjo, S., I. Utomo dan J. Wiroatmodjo. 1984. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. Jakarta (ID): PT Gramedia
Read More

Selasa, 14 Februari 2017

Motivasi Masyarakat dan Pengabdian



“Motivasi berasal dari kata latin movere yang berarti dorongan atau pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan.”Menurut Malayu (2015)

            Motivasi merupakan hal yang penting dalam hidup manusia. Motivasi menjadi sesuatu yang membuat manusia baik sebagai individu maupun kelompok untuk mencapai suatu tujuan yang sudah ditetapkan. Manusia sebagai kelompok atau bias kita sebut masyarakat membutuhkan motivasi yang terarah dan jelas agar tujuan mereka dapat tercapai dengan bekerjasama. Dalam kasus masyarakat pedesaan atau masyarakat yang sedikit memperoleh pendidikan, motivasi sangatlah dibutuhkan. Kerjasama pada masyarakat tersebut sangat tinggi. Aplikasi kerjasama tersebut dapat kita amati dalam kegiatan gotong royong seperti pembangunan jalan, pemasangan atap rumah, upacara adat dan kegiatan lainnya. Namun, kerjasama tersebut biasanya hanya memiliki tujuan atau target jangka pendek. Sebaliknya target jangka panjang (future goal) pada masyarakata pedesaan masih sangat rendanh dan tidak menjadi prioritas yang ditetapkan oleh mereka. Dengan demikian, dibutuhkan motivasi yang tinggi untuk mencapai tujuan jangka panjang.
            Tujuan jangka panjang adalah tujuan yang membutuhkan proses dan waktu untuk mencapainya. Meskipun demikian, hasil yang diperoleh atau tujuan yang tercapai dapat dirasakan dan bermanfaat dalam jangka waktu yang lama. Contohnya adalah pendidikan tinggi, minat baca, kemampuan mengoperasikan komputer (teknologi), manajemen organisasi dan sebagainya. Tujuan-tujuan ini memiliki manfaat yang dapat dirasakan dalam jangka waktu yang lama bahkan sampai generasi-generasi berikutnya. Dalam menetapkan tujuan jangka panjang tersebut, dibutuhkan leader atau pemimpin yang memiliki pemikiran visioner dan motivasi yang tinggi serta diakui oleh masyarakat lainnya. Selain itu, dalam pelaksanaannya dibutuhkan pula pendamping dari luar masyarakat tersebut yang dapat memberikan motivasi atau dapat “mengiming-imingi” masyarakat tersebut untuk mencapai tujuan jangka panjang. Hal inilah yang saya rasakan ketika menjadi peserta IGTF 2016 di SPR cabang Desa Kedung Sari, Kabupaten Kebumen.
            SPR cabang Desa Kedung Sari memiliki kelompok peternak sapi PO yang diketuai oleh Bapak Anwar. Beliau merupakan ketua dan pendiri kelompok peternak tersebut. Kelompok peternak ini dapat dikatakan sebagai kelompok peternak yang paling maju diantara 4 desa di SPR Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen. Kelompok ternak ini sudah memanfaatkan limbah dari sapi dan mengolahnya menjadi pupuk bahkan menjadi biogas. Selain itu, pupuk tersebut sudah dikomersilkan dan didistribusikan ke Kabupaten Banjarnegara. Hal ini merupakan hasil dari kepemimpinan dan ide-ide yang visioner dari ketuanya. Ini merupakan prestasi yang sangat progresif. Dalam mencapai prestasi-prestasi tersebut, dibutuhkan juga pengorbanan dari ketuanya. Dari pengorbanan yang sepele atau kecil sampai pengorbanan yang besar. Hal ini dibutuhkan untuk terus memotivasi anggotanya dan mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.
            Perjuangan pak Anwar tersebut adalah contoh bagi kami sebagai peserta IGTF dalam melaksanakan pengabdian masyarakat. Selain mengabdi kita juga harus menjadi fasilitator yang berfungsi memberikan motivasi untuk menggerakan masyarakat dan terus maju. Hal ini menjadi sulit apabila tidak dilakukan dengan tulus. Seperti yang saya tulis sebelumnya, hasil dari tujuan jangka panjang membutuhkan waktu dan proses yang kontinu. Oleh karena itu pengabdian tidak diukur dari berapa lama program tersebut dilaksanakan akan tetapi seberapa berbekas hasil dari program tersebut.
“Dalam pengabdian, yang terpenting bukan 2 minggunya akan tetapi 365 hari dikurangi 2 minggu tersebut” DR Zaenal Abidins .SI, M.Agr   

             
Read More